Showing posts with label Aku. Show all posts
Showing posts with label Aku. Show all posts

Saturday, 24 August 2019

Selamat menua, kamu!


Setelah setua ini aku sadar, bahwa yang paling mengerikan itu adalah ekspektasi. 
Omong kosong selalu menjadi topik yang menarik. Sedang imaji kadang berlebih untuk menarik diri pada khayalan yang sulit. Ada realita yang mengiris perlahan kuat hati. Sedang kita sibuk mencari obat, ternyata kita lupa bahwa sakit itu hanya sugesti. Apa yang bisa mengobati luka dalam ini?

Yang kutakutkan dari mulai berharap adalah - Berpangkal dari harapan, lalu setapak demi setapak semakin berjarak dari kenaifan, mengharap lagi dan lagi bahkan melewati perlu. hingga hati sedikit demi sedikit menjadi bebal. Membolehkan yang tidak dan menidakkan keharusan demi memuaskan  -sekedar kepuasan—

Seperti kompleksitas tak terbatas.

Mungkin benar katamu, aku ini rumit. Pemikiranku punya alurnya sendiri, yang tak bisa diprediksi.

Setelah setua ini aku sadar, aku masih belum paham diriku sendiri.

Walaupun begitu, selamat menua. Pahami, umur bukan sesuatu yang bisa kita ajak kompromi.

Monday, 11 September 2017

Perayaan 23

23 tahun, perjalanan panjang yang merindukan. Serasa sangat kental, masih basah dan begitu berbekas diingatan. Aku serasa mengembalikan jarum waktu yang sempat berlalu, beberapa waktu yang silam.  Berkubang dalam kenangan, mencoba lebur dalam genangan dan pecah beriak membentuk cyrcle yang berlapis rapi. Aku tenggelam dalam renungan masa lalu.

Aku mungkin belum menjadi yang terbaik, tidak bisa sempurna, bahkan ketika 22 tahun aku telah belajar untuk menjadi lebih baik. Belum di mata manusia, pun belum di sisi Tuhan. Menjadi sempurna hanya ilusi, seperti menggenggam udara dalam kepalan tangan. Ketika aku fikir telah menggenggamnya, aku tak tahu jika dia mungkin tiba-tiba menghilang. Menguap, tak tinggalkan jejak. 

Kadang hati tak pernah merasa cukup, kadang bibir yang terlalu mudah mengeluh. Ada air mata yang bosan jatuh dan memilih untuk menjadi angkuh. Setiap apa yang dialami, ada Allah yang begitu peduli dan selalu disisi. Sekalipun segala hal terasa sukar, selalu ada alasan untuk tegar.

Aku bersyukur. Tentu saja. Banyak hal yang patut disyukuri dari setiap detak yang terdengar dan detik yang berlalu. Apalagi yang mesti di sesali? Tidak ada. Yang lalu telah berlalu dengan hasil yang baik. Alhamdulillah lagi dan lagi. Atas nikmat sehat, nikmat rezeki, nikmatnya kasih sayang keluarga, sahabat dan orang-orang terdekat. Aku  tak punya alasan untuk menyesali apapun.

Menjadi tua bukan perkara sederhana. Ini tentang tanggung jawab yang bertambah, terhadap Allah, terhadap orang tua, terhadap diri sendiri. Ketika beban di pundak menjadi lebih berat, kita hanya perlu menjadi lebih kuat untuk bisa berdiri tetap tegak.  Jadi, mari lihat bagaimana Allah memberi kita waktu untuk bertahan.

Saturday, 3 September 2016

Menjadi Tua (22)

Menjadi Tua

Aku masih tidak mengerti mengapa pertambahan umur menjadi sesuatu yang layak diberi selamat. Aku masih tidak mengerti filosofi meniup lilin disaat kita mengulang hari kelahiran. Aku hanya setuju jika disaat bertambah umur, kita harus kembali mengenang rasa sakit Mama melahirkan. Mengenang hari dimana Mama mempertaruhkan nyawanya demi nyawa baru. Mencintainya semakin banyak, karena setelah melahirkan, beliau menjaga, menyayangi dan mendidik kita hingga saat ini, hingga aku genap berusia 22 tahun.

Menjadi tua bukan perkara umur saja, tapi fikiran, tindakan dan harapan. Kita menjadi tua saat kita tidur dan masih terbangun di pagi hari. Kita menjadi lebih tua saat yang lebih muda lahir setiap hari. Kita menjadi tua bahkan saat kita berfikir belum pernah menikmati masa muda. Semua berlalu hanya dalam sekejap mata.  Dan kita merayakan pertambahan umur setiap tahun, untuk semakin meyakinkan diri kita bahwa benar kita bertambah tua. Siapa tahu ini akan menjadi tahun terakhir. Siapa tahu. Karena Tuhan punya rencana yang tidak bisa kita tentukan akhirnya.

Manusia lahir tanpa pakaian apapun yang melekat, tanpa harta, tanpa gelar, tanpa tahta, tanpa apa apa. Tapi, kita lahir bersamaan dengan harapan-harapan besar para orang tua yang kita pikul pada pundak-pundak kita. Harapan-harapan itu, sudahkah kamu mewujudkannya? Harapan-harapan itu, apakah kamu sudah memahaminya? Setidaknya berusaha untuk memenuhinya?

Aku 22. Kini menyandang status sarjana, fresh graduate katanya. Walaupun masih tak cukup, setidaknya aku punya suatu hasil yang bisa aku pertanggung jawabkan pada mama dan papa. Ini sebagai harapan, yang mama dan papa merasa terwujud setelah mereka melihatku mengenakan baju toga. Aku lulus tepat waktu, 3 tahun 9 bulan dengan nilai yang cukup membahagiakan, sehingga predikat Cumlaude bisa didengungkan bersamaan dengan namaku saat yudisium dan wisuda. Aku tepat duduk di belakang mama saat itu, menatap mukanya yang menunduk dengan tenang menghela nafasnya. Air muka itu, aku ingin melihatnya lagi. Aku merasa kecanduan untuk membuatnya bahagia lagi, dan lagi. Berharap bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan, bisa memenuhi kebutuhannya, bisa melepaskan segala tanggung jawabnya sebagai orang tua dengan menikahi seorang pria baik-baik yang tentu saja disenangi olehnya, oleh mama dan papa. Mendapatkan ridhanya mereka dan mengenggam berkahnya Illahi Rabbi.

Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku telah menjadi tua, bukan perkara umur saja, tapi fikiran, tindakan dan harapan. Apa yang salah dengan menjadi tua?

Monday, 20 June 2016

Clear The Way

Setelah sukses ngelewatin masa-masa suram ngerjain TA, banyak yang nanya dan penasaran gimana rasanya jadi sarjana. Well, aku kasih tau satu hal. Rasanya jadi sarjana itu, beban. Mau kemana setelah kuliah? Masa’ iya di rumah aja. Ga asik juga nangki di kampus, berasa tua-nya. Uda diteror pula dengan pertanyaan, “mau lanjut S2 kemana? Atau mau langsung kerja?”. Tarik napas dulu kali.

Buat yang masih berjuang menanti sidang putusan para dosen  (cailah), aku pengen bagi cerita pengalaman rasanya duduk di depan 5 dosen dan diajukan pertanyaan yang kita ga pernah bayangin bakal di tanyain, dari yang paling penting sampe yang engga banget. Buat kamu yang sekalipun asli pinternya, pura-pura bodoh di dalam keadaan seperti itu adalah solusi terbaik dari yang paling baik. Jangan sok belagu dan ngelawan apa kata dosen, dalam situasi sidang. Pinter-pinter deh ngomong dan ngajak diskusi para dosen yang lagi mengintrogasi, pasang tampang menyakinkan.

Hal lainnya yang perlu diketahui bagi para mahasiswa, Jangan bicara yang engga perlu pas sidang. Karena setiap kata yang keluar dari mulut, bisa aja nimbulin pertanyaan baru bagi para dosen eksekusi. Keep calm sekalipun kamu ga punya bayangan kayak apa jawabannya. Kalo kamu udah membatu, dosen yang nanyain itu mungkin bakal kasih clue menyangkut jawaban yang dipertanyakan. Ga bisa jawab satu – dua pertanyaan ga buat hidup kamu berakhir sampai disitu. Tetap jaga attitude.

Di saat sidang, kamu akan menuai apa yang kamu tanam selama masa-masa kuliah kamu beberapa tahun belakangan, penentuan judul Tugas Akhir, pemilihan dosen pembimbing , masa penelitian, penulisan laporan, seminar proposal dan hasil . Dalam hal ini, pemilihan dosen pembimbing dan penentuan judul penelitian, aku rasa sesuatu yang mendasar.

Pilih dosen pembimbing yang baik hatinya (syarat mutlak). Pastikan dosen tersebut sering berada di kampus, atau yang bisa kita jumpai kapan aja. Pilih dosen yang paling expert  menyangkut Tugas Akhir kamu, selain agar bisa membantu kamu jika punya kendala selama penelitian, hal ini juga untuk mengantisipasi supaya beliau tidak menjadi dosen penguji kamu nantinya. Pilih dosen yang humble, bersedia ngajarin kalau kamu lagi buntu selama penelitian, bukan yang bakal ngerendahin kamu dan buat kamu takut jumpai beliau untuk konsultasi. Yah, walaupun jarang ada dosen yang kumplit begini, setidaknya cari dosen pembimbing yang memenuhi sebagian dari syarat ini. Ini akan sangat mempengaruhi kamu dalam menyelesaikan Tugas Akhir.

Selain itu, pemilihan judul Tugas Akhir juga penting. Kata kebanyakan orang, judul Tugas Akhir S1 jangan susah-susah. Katanya takut makan waktu yang lama dalam penelitian. Untuk hal ini, aku sih sebenarnya kurang setuju ya. Mahasiswa kan maunya punya judul Tugas Akhir S1 yang kedengarannya aja udah keren. Soalnya, ini bakal jadi sejarah untuk sepanjang hidup si Mahasiswa. Masa’ iya ngerjain TA gitu-gitu aja, kayak ngerjain tugas kampus atau projek-an final mata kuliah. Kan kurang greget (eseeeh). But, point-nya adalah pilih judul Tugas Akhir yang kamu yakin banyak referensi yang me-refer to judul kita. Pastiin kita punya cukup sumber untuk mempelajari hal tersebut. Disiplin adalah kunci utama, harus rajin baca, rajin konsul, tahan banting dengan segala kemungkinan. Yah, usahanya juga harus setimpal lah untuk menghasilkan sesuatu yang keren. Pastiin kita punya pemahaman yang cukup tentang judul yang kita ajuin, sebelum kita naik seminar proposal.

Kalau ada yang bilang “ngerjain Tugas Akhir itu gampang”, dia itu bohong besar. Jarang ada mahasiswa yang mulus-mulus aja ngerjain Tugas Akhir. Ada aja kendalanya, data yang kurang lah, referensi yang absurd, penelitian yang gagal, hasil yang engga sesuai, dosen yang susah ditemui, malas yang sering datang ga kenal waktu, kurang ini, kurang itu. Pokoknya ada aja. Jadi, harap maklum kalo mahasiswa tingkat akhir ini menggalau dan suka sensi atau tempramen tiba-tiba (wkwkwkw). Kalaupun kalian lihat ada mahasiswa tingkat akhir yang tetap kalem dan ceria ketawa sana sini sekalipun dengan sejumlah kendala yang udah di tulis sebelumnya, cuma ada 2 alasannya. Alasan pertama karena mahasiswa itu sabar tingkat dewa, alasan lainnya karena mahasiswa itu ga perduli dengan TA-nya. Ini bisa di survey langsung  deh.

Setelah niat ngerjain Tugas Akhir udah ada, usaha udah maksimal, doa udah gencar. Selebihnya, biarkan Allah yang menunjukkan kekuasaan. Seperti yang sudah aku katakan, hasil tidak akan mengkhianati proses. Allah tidak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan umat-Nya. Lewati segala sakit ngerjain TA dalam ikhlas. Ini hanya duniawi, tak kamu bawa sampai mati.    

Lalu, “mau lanjut S2 kemana? Atau mau langsung kerja?”

Hah, aku sih percaya ya, hidup manusia itu udah ada yang ngatur.  Hanya Allah yang tahu kemana air mengalir, kemana takdir menentukan akhir.  Mau kata apa juga, sabar aja deh dulu dan lihat bagaimana Allah menuntun tapak melangkah dan mengijabahkan doa diwaktu yang tepat. Yah, di doakan sajalah, semoga apapun yang Allah takdirkan, S2-kah, kerja-kah, ataupun menikah-kah, semoga adalah sebaik-baiknya masa depan. Sebaiknya langkah dalam mengisi hidup agar menjadi lebih bermakna dan tidak sia-sia belaka.

Mari kita aminkan,
Semoga yang belum sarjana, bisa cepat nyusul jadi sarjana.
Semoga yang lagi berusaha dapat kerja, bisa cepat di-pekerja-kan atau membuka lapangan pekerjaan dan mendapatkan rizki yang halal.
Semoga yang lagi menunggu jodoh, dipertemukan dengan jodohnya di waktu yang tepat dengan sosok yang tepat pula.
Semoga yang belum bahagia, dibuka hatinya agar lebih bersyukur.

Bismillah, Luruskan niat. tidak akan ada usaha yang sia-sia. 

Sunday, 8 May 2016

Beranjak

Ketika waktu mulai beranjak dan kaki kian menapak, kita semakin mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, tapi mungkin akan jauh kedepan, selama nafas masih diberikan. Kita mulai membuat perencanaan yang lebih manusiawi. Tak lagi bermimpi memiliki pintu kemana saja. Tak berharap bisa mengambil bintang untuk menempelnya pada langit-langit kamar. Tak lagi bermimpi memiliki taman yang penuh ice cream, coklat dan mainan. Kita tak lagi meminta yang tak masuk akal. Yang diharapkan hanya semua bisa berjalan sewajarnya dan mampu mengatasi masalah dengan kelapangan hati dan ketenangan fikiran.

Tahun-tahun silam adalah saat dimana aku enggan beranjak dewasa. Saat dimana mimpi yang kubuat hanya sebatas hari ini. Dimana dunia dongeng begitu kuanggap nyata dalam duniaku. Hingga ketika aku sadar betapa kejamnya kehidupan nyata yang sedang menunggu. Pun begitu, aku berusaha untuk mencari tahu, berusaha menggapai, mendengar, dan menyentuh kehidupan yang terlihat kejam itu. aku ingin merasakan. Aku cukup kuat untuk menyeka air mata dan hanya menahannya untukku. Aku bukan lagi anak-anak yang tanpa beban, aku mengerti arti tanggung jawab dan segala kewajiban.


Dalam perjalanannya, aku sering melawan diriku sendiri yang menciptakan ragu. Aku menatap sisi lainku dalam cermin. Aku terlihat lugu mencari tahu. Di pundak, kupikul sederatan kisah masa lalu. Aku melihat ke-aku-anku dalam diriku, tertutup asa yang dihalangi pesimis. Selayaknya lapisan kaca yang rapuh. Bagaimana harusku menopang? ketika angin menyapa, aku mudah jatuh. Menjadilah kuat dan mendewasalah. Aku yakin aku mampu. Melebihi angin, kita bisa menghalau badai, jika perlu kita hilangkan segala ketidakmungkinan itu. Gagal hanya masalah waktu. Sedangkan waktu akan beranjak. Dan di waktu yang akan datang, sakit yang kita rasa hari ini hanyalah “masa lalu”.

Thursday, 14 May 2015

Absurd


Hujan turun deras sore ini, meninggalkan kabut dan memburamkan kaca jendela kamarku. Angin bertiup kencang, dari sudut kamar aku menikmatinya. Diluar, petir menyambar-nyambar begitu kentara terdengar di telingaku. Aku disini, sendiri. Hanya bersama suara nyaring percikan hujan. aku sering merindukannya pada kemarau panjang yang lalu. Ia meninggalkan kesan yang syahdu, dan bau tanah yang membuatku merasa jatuh cinta pada Tuhan, pada alam, lagi dan lagi. Cinta yang luar biasa dari alasan yang sederhana. Maka aku merasakan sensasi yang luar biasa.

Friday, 19 December 2014

Menuju Hati

Aku hanya berharap mereka tahu, bahwa selalu ada cahaya bahkan dari gelapnya gulita. Tak selalu dari sinaran gelombang warna, kadang hati bisa gantikan pijarannya lampu terang beragam warna. 

Thursday, 2 October 2014

Berlalu


Di dunia ini, ada sesuatu yang jika kamu mengenangnya mungkin akan membuatmu merasakan sakit, tapi kamu akan terus mengingatnya, bahkan setengah memaksa untuk kembali mereka-reka.

Monday, 8 September 2014

Lalai yang Menyesal

Aku mencari celah diantara banyaknya asa, barangkali ada yang silap kuingat untukku usaha wujudkan dalam nyata. Namun aku merasa ini akan menjadi sampah percuma, karena aku terlalu lambat menyesalinya.

Ribuan hari terlewati sia-sia. Sedangkan aku disini masih sibuk membilang tentang cita-cita. Bagai masih menjadi boneka kecil ibu. Disaat tersadar kini aku terlanjur renta.

Saturday, 23 August 2014

Ketika Kugenggam 20 di Tangan

Manusia tak ayal melakukan perjalanan panjang hanya untuk mencari potensi apa yang sebenarnya terpendam dalam dirinya. Maka jelas, mengenal diri sendiri adalah perjuangan terberat. 

Monday, 2 June 2014

Kusebut Ini Sederhana

Bahkan kalimat memerlukan titik. Sedangkan sungai butuh muara.
Maka selaksa luka dan duka hanya butuh waktu untuk bisa dilupa. Dan selebihnya, kita hanya perlu berbahagia. Bahagia perlu dikejar meskipun hingga akhir nafas. Jadi hidup tidak akan menjadi sia-sia.

Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya perlu melihat bagaimana Tuhan memberi kita waktu untuk bertahan. Karena kita tak bisa mengulang waktu, dan tak pula bisa menentukan dengan tepat masa depan, maka jalani saja. Jalani, hayati setiap perubahan. Setelah waktu berlalu, seharusnya kita mendapatkan lebih banyak dari yang terdahulu.

Monday, 5 May 2014

Yang Dewasa, Yang Bersyukur

Sekalipun kau kata Bintang itu indah, dia tetap harus menunggu malam untuk membuat dirinya berarti.
Seberapa penting pun matahari, dia butuh siang untuk bisa menyinari.
Seperti ombak yang butuh tepi, agar ia pecah beriak tak membadai lagi.
Seperti pohon-pohon yang butuh air untuk bisa hidup setiap hari.
Dan kamu, dapatkah kamu hidup tanpa ada Allah yang memberi nafas padamu tanpa jeda meskipun kamu mahir dalam segala hal dunia?

Friday, 14 March 2014

Sunday, 9 February 2014

Perkara rahasia


Bahwa gelap dan terang bisa datang bersama dan menciptakan bayangan disekitar kita. Menyembunyikan bayangan itu seperti menyembunyikan dirimu sendiri. Kita, dan rahasia yang kita pendam pada masing-masing hati, menginginkan tempat yang aman untuk disimpan bahkan dari bayangannya itu.

Sulit menyimpan sesuatu, bukan? Bahkan apa yang dirasakan hati ingin disembunyikan saja dari otak. Jika hati yang tahu, maka cukup hati. Jika otak yang kadang memikirkan sesuatu, tak bisakah jangan melibatkan hati? Karena apa yang kadang difikirkan bisa menyakiti hati.

Tuesday, 14 January 2014

Selayaknya Layang-layang

Kadang beberapa hal lebih baik pergi. Meski akan sulit melepasnya dari genggaman...

Kau tahu, Layangan perlu dilepas untuk membuktikan bahwa dia benar-benar indah.

Friday, 23 August 2013

Satu untuk Sembilan Belas


Rujuk kasih di tahun ke-19 untuk Mama...

Hari ini aku menemukan angka satu lainnya. Berarti, genap 19 sudah. Tapi, haruskah aku membilangnya? Toh, hanya lilin yang bertambah, yang akan perlahan juga lelap dalam gelap dan berlalu menjadi asap yang bergelayut di ruang udara.

Friday, 7 June 2013

Aku Hanyalah Hamba


Ya Allah Ya Tuhan ku,  Engkau yang paling mengerti tentang rasa yang kadang tak sanggup lagi ditahan oleh hati dan fikiran ini.  Seberapa berat yang kujalani aku yakin sebagai bentuk kasih sayangMu untuk menguji ku menjadi umatmu yang lebih baik.

Monday, 20 June 2011

Kita, Sahabat

Bukankah ini menarik, setiap kita menemui seseorang kita tidak bisa memprediksi apakah nantinya dia akan menjadi musuh atau sahabatmu...

Sejak pertama bertemu, aku pun tak menyangka akan begini skenario Tuhan untuk kita. Serangkaian cerita kita lalui. Saat itu, aku merasa ini akan menjadi 3 tahun yang membosankan. Hari berganti hari, berubah menjadi tahun dan membawa kita pada hari ini.
Kebetulankah pertemuan kita saat itu? Tidak! Aku tidak percaya pada kebetulan, yang aku percaya adalah Tuhan telah menakdirkan kamu untukku, hingga hari ini, aku bisa menggenggam tanganmu sebagai seorang yang kamu sebut sahabat.


“3 tahun yang membosankan”
ternyata hanyalah pernyataan yang tak beralasan, karena kalian ada untukku, selalu begitu. Bahkan setelah 3 tahun itu hampir berlalu. Dan mengapa sekarang waktu terasa berlari dari sisiku, nyaris akan membawamu menjauh dari pandanganku.

Sadarkah kamu, bahwa 3 tahun itu telah berlalu, sedang kita sibuk menghitung jari mengira hari berpisah itu.

Kamu telah bertambah umur, aku pun begitu. Kita mengembangkan kepribadian bersama, berbagi rasa. Dan hingga aku menyadari, kini aku sudah sangat mengenalmu. Baik burukmu telah aku terima, untuk mengimbangi baik burukku. Dalam beberapa sisi, aku bahkan menjadi iri padamu, sahabatku sendiri. Kuakui, personality mu luar biasa. Lain waktu ajarkan aku untuk mudah melepaskan rasa, karena aku sedikit lelah menjadi orang yang sok tegar. Mungkin aku akan belajar caramu untuk berbagi rasa dengan sesama dan tak gengsi menumpahkannya dengan air mata.



Apakah ini berlebihan, sahabat?
Percayalah, aku perlu mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan ini cukup lama.
Mungkin aku terlalu sering tak perduli. Tapi, aku tidak bermaksud menyakiti. Aku fikir kamu mengerti aku.


Pertambahan umurmu ini, semoga semakin baik dari sebelumnya. Selalulah menjadi perhiasan Tuhan dalam dunia-Nya. Jagalah apapun yang telah tuhan berkahi untukmu. Kecantikan, sifat ramahmu, kebaikan, dan perhatianmu terhadap sesama. Tetaplah menjadi seperti itu. Dan bila nantinya aku yang berubah, maka tolong tegurlah aku.




Sahabatku, apakah ini adalah terakhir kalinya kamu melewati pertambahan umurmu bersamaku? Semoga saja tidak. Aku berharap akan terus begini, bahkan hingga nanti, pada waktu yang tak terbatas.

Selamat ulang tahun, sahabat. Doaku menyertaimu. Selalulah seperti itu :)