Showing posts with label Untukmu. Show all posts
Showing posts with label Untukmu. Show all posts

Friday, 19 December 2014

Menuju Hati

Aku hanya berharap mereka tahu, bahwa selalu ada cahaya bahkan dari gelapnya gulita. Tak selalu dari sinaran gelombang warna, kadang hati bisa gantikan pijarannya lampu terang beragam warna. 

Monday, 2 June 2014

Kusebut Ini Sederhana

Bahkan kalimat memerlukan titik. Sedangkan sungai butuh muara.
Maka selaksa luka dan duka hanya butuh waktu untuk bisa dilupa. Dan selebihnya, kita hanya perlu berbahagia. Bahagia perlu dikejar meskipun hingga akhir nafas. Jadi hidup tidak akan menjadi sia-sia.

Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya perlu melihat bagaimana Tuhan memberi kita waktu untuk bertahan. Karena kita tak bisa mengulang waktu, dan tak pula bisa menentukan dengan tepat masa depan, maka jalani saja. Jalani, hayati setiap perubahan. Setelah waktu berlalu, seharusnya kita mendapatkan lebih banyak dari yang terdahulu.

Wednesday, 26 March 2014

Palang Pintu Hati

Teman ku lebih senang menganalogikannya seperti ini “cukup dengan tidak berdiri di pintu masuk”.

Jika aku katakan, mungkin akan terdengar seperti “pemberi harapan palsu”.

Pada siang yang terik, seperti siang-siang kemarin yang kami lalui. Membincangkan ini-itu. Mengungkit-ungkit kisah masa lalu, menceritakan hal penting dan tak penting sekalipun. Bagi sekumpulan wanita, hal semacam ini menjadi wajar di saat mengisi waktu yang lengang. Hingga kami sampai pada topic yang berhubungan dengan harapan dan hati. Menyampaikan argumen yang sehubungan, dan saling membantah di beberapa bagian. Maka menurutku, mungkin seperti ini…

Friday, 14 March 2014

'Dia' Akan Datang

Bahwa kematian pasti akan menepati janji, datang kepada siapa saja tak kenal usia.
Sekalipun ia ditakuti atau sekalipun kamu menginginkannya, dia akan datang pada waktu yang telah pasti dan tak pula terlewati atau dikurangi.

Bahwa ia memisahkanmu dari yang terkasih hingga yang dibenci. Memisahkan jiwa dari raga yang pernah kamu sombongkan. Memisahkan dunia dari keadaan kepada ketiadaan.

Sunday, 19 January 2014

Senja Milik Hariku


Kau tahu mengapa kita tak bisa melangkahi senja?
Karena dia ada untuk malam.
Menjadikan langit biru ufuk barat sewarna saga, dia hantarkan malam untuk kita.

Sunday, 15 December 2013

Dunia Semu Mu

Katanya ini bisu...
Bahkan ketika tawa tergelak lepas di telinganya.
Lantas bagaimana kau artikan ramai?

kau anggap dunia ini bukan bagian darimu.
Dan kamu tak pernah merasa menjadi bagian darinya...
Ada batas tak tampak, meski yang lain tak pernah merasakan batasannya.
Sedangkan kau terus membangun duniamu sendiri begitu nyata dalam benak.
Setiap hari kau merasa berbatas pada apa yang tak pernah dibatasi.

Friday, 23 August 2013

Satu untuk Sembilan Belas


Rujuk kasih di tahun ke-19 untuk Mama...

Hari ini aku menemukan angka satu lainnya. Berarti, genap 19 sudah. Tapi, haruskah aku membilangnya? Toh, hanya lilin yang bertambah, yang akan perlahan juga lelap dalam gelap dan berlalu menjadi asap yang bergelayut di ruang udara.

Sunday, 3 June 2012

Friday, 1 June 2012

Untukmu yang Istimewa

menemukan sosok seperti mu dalam hidupku mmbuatku mrasa berharga
tak pernah menyesali bahkan sangat menghargainya
sedikit banyakk pertemuan ini mengubah hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya


Monday, 20 June 2011

Kita, Sahabat

Bukankah ini menarik, setiap kita menemui seseorang kita tidak bisa memprediksi apakah nantinya dia akan menjadi musuh atau sahabatmu...

Sejak pertama bertemu, aku pun tak menyangka akan begini skenario Tuhan untuk kita. Serangkaian cerita kita lalui. Saat itu, aku merasa ini akan menjadi 3 tahun yang membosankan. Hari berganti hari, berubah menjadi tahun dan membawa kita pada hari ini.
Kebetulankah pertemuan kita saat itu? Tidak! Aku tidak percaya pada kebetulan, yang aku percaya adalah Tuhan telah menakdirkan kamu untukku, hingga hari ini, aku bisa menggenggam tanganmu sebagai seorang yang kamu sebut sahabat.


“3 tahun yang membosankan”
ternyata hanyalah pernyataan yang tak beralasan, karena kalian ada untukku, selalu begitu. Bahkan setelah 3 tahun itu hampir berlalu. Dan mengapa sekarang waktu terasa berlari dari sisiku, nyaris akan membawamu menjauh dari pandanganku.

Sadarkah kamu, bahwa 3 tahun itu telah berlalu, sedang kita sibuk menghitung jari mengira hari berpisah itu.

Kamu telah bertambah umur, aku pun begitu. Kita mengembangkan kepribadian bersama, berbagi rasa. Dan hingga aku menyadari, kini aku sudah sangat mengenalmu. Baik burukmu telah aku terima, untuk mengimbangi baik burukku. Dalam beberapa sisi, aku bahkan menjadi iri padamu, sahabatku sendiri. Kuakui, personality mu luar biasa. Lain waktu ajarkan aku untuk mudah melepaskan rasa, karena aku sedikit lelah menjadi orang yang sok tegar. Mungkin aku akan belajar caramu untuk berbagi rasa dengan sesama dan tak gengsi menumpahkannya dengan air mata.



Apakah ini berlebihan, sahabat?
Percayalah, aku perlu mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan ini cukup lama.
Mungkin aku terlalu sering tak perduli. Tapi, aku tidak bermaksud menyakiti. Aku fikir kamu mengerti aku.


Pertambahan umurmu ini, semoga semakin baik dari sebelumnya. Selalulah menjadi perhiasan Tuhan dalam dunia-Nya. Jagalah apapun yang telah tuhan berkahi untukmu. Kecantikan, sifat ramahmu, kebaikan, dan perhatianmu terhadap sesama. Tetaplah menjadi seperti itu. Dan bila nantinya aku yang berubah, maka tolong tegurlah aku.




Sahabatku, apakah ini adalah terakhir kalinya kamu melewati pertambahan umurmu bersamaku? Semoga saja tidak. Aku berharap akan terus begini, bahkan hingga nanti, pada waktu yang tak terbatas.

Selamat ulang tahun, sahabat. Doaku menyertaimu. Selalulah seperti itu :)