Hujan turun deras sore ini, meninggalkan kabut dan memburamkan kaca jendela kamarku. Angin bertiup kencang, dari sudut kamar aku menikmatinya. Diluar, petir menyambar-nyambar begitu kentara terdengar di telingaku. Aku disini, sendiri. Hanya bersama suara nyaring percikan hujan. aku sering merindukannya pada kemarau panjang yang lalu. Ia meninggalkan kesan yang syahdu, dan bau tanah yang membuatku merasa jatuh cinta pada Tuhan, pada alam, lagi dan lagi. Cinta yang luar biasa dari alasan yang sederhana. Maka aku merasakan sensasi yang luar biasa.
Sejujurnya aku tidak sepenuhnya sadar tentang apa yang aku tulis saat ini. Hanya aku senang, mendengarkan suara keyboardku melakukan harmonisasinya dengan suara hujan dan sesekali gelegar petir menyela. Aku mensyukurinya. Tidak semua insan bisa merasakan betapa bahagia disaat-saat yang serupa. Mungkin mereka terlalu sibuk. Lihatlah, bagaimana aku terpesona pada hujan yang perlahan menetes membentuk aliran di kaca jendala dan menghapus kabut yang sempat memburamkan jarak pandang ke luar sana. Mengapa harus mencari alasan bahagia pada sesuatu yang harus kamu bayar mahal, padahal kamu bisa menemukannya di sini, tanpa harus mengurangi uang saku pemberian mama-papa.
Daun-daun keladi kesayangan mama bergoyang ke segala arah. Apakah mereka juga bahagia saat hujan menyapa? apakah mereka berdansa dengan sayup-sayup angin dan merasakan jatuh cinta?
Adalah hujan, yang memberikan kita kekuatan. Mungkin ia bisa menghapus segala muram durja. Lukiskan pelangi beragam warna seperti hidup yang bisa mengarah ke mana saja, dengan jalan yang berbeda, tapi seharusnya memiliki tujuan yang serupa, yaitu mencari Ridha-Nya.
Satu, dua, sepuluh, seratus, satu triliuun.... lebih. aku tak sanggup membilangnya. tapi, Tuhan bahkan memberikan cinta kasih sebanyak melebihi pada yang tak terbilang. Tak terkira. dan kita kadang masih sibuk mencari alasan mengapa kita harus menghadap pada-Nya. Pada pemilik segalanya. Kadang kita lupa, atau kita abaikan disaat sudah waktunya.
Adalah hujan, yang menyadarkanku ketika aku terlalu terlena. Mungkin aku sempat salah berbelok pada jalan sebelumnya, setidaknya aku bisa tersadar dan kembali pada jalan yang seharusnya. Ingatkan aku, aku punya segalanya saat aku berfikir tak punya apa-apa. Apa lagi yang harus diingkari dari limpahan rahmat dan karunia-Nya? setidaknya ingatlah pada hujan hari ini, yang membuatmu tersenyum sederhana dan tampak sangat berbahagia. Hujan hanyalah salah satunya.
Mari nikmati ini dalam diam. Kamu, aku, Kita seharusnya bisa mengobati luka yang lama, menghilangkan bau amis darah yang berkubang karena hujan telah membersihkannya. Hujan telah mengaliri perih dan membawanya ke hilir. Kita pernah sakit dan berduka, tapi itu hanya seperti kubangan kecil. Jangan pernah lupakan kita punya lautan bahagia.


Dan ak tetep jatuh cinta dengan rangkaian-rangkaian kata dari zulia maulina.
ReplyDeletekeep moving my friend. I wanna read your book soon :) i wish.
Amiiin sarah sayangg. amatiran kali masih --"
ReplyDelete