Friday, 23 August 2013

Satu untuk Sembilan Belas


Rujuk kasih di tahun ke-19 untuk Mama...

Hari ini aku menemukan angka satu lainnya. Berarti, genap 19 sudah. Tapi, haruskah aku membilangnya? Toh, hanya lilin yang bertambah, yang akan perlahan juga lelap dalam gelap dan berlalu menjadi asap yang bergelayut di ruang udara.


Sejak keluar dari rahim wanita hebat itu, tak ada satupun bagian yang tak patut kusyukuri. Aku selalu merasakan kasih, bahkan dari setiap rembes hujan di hujung cerucuk atap. Rinai hujan selalu berhasil meresonansi ingatan masa laluku. Aku senang jika harus mengenang, kadang kita memang memerlukannya. Meski air mata tak sadar jatuh basahi sudut mata yang sendu. Tenang. Aku takkan menangasi kenangan buruk. Tapi kenangan indah yang aku tahu dia tak kan dapat kembali.

Nanar mengenang jauh kebelakang, sempat beberapa kali kulewati malam yang kelam. Bulan enggan tuk pinjamkan terangnya temani sudut yang beku. Siapa yang tak suka cahayanya? Meratappun jadi untuk bisa merengkuh hangat pijarannya. Dari situ kudapat hangat mengalahkan gigil malam yang sering menyusup lewat kusen jendela kamarku, meredam gemertak gigi yang senang bersahutan dengan senandung serangga malam.

Namun, dari wanita hebat yang kusebut Mama, sebenar benar Obat gigil yang teramat keramat. Yang muncul pada setiap saat yang kelam. Yang meminjamkan fikiran, tenaga dan airmatanya untukku, yang tak malu menerima. Siapa yang sudi berbagi resah bersama namun tak dapat kembali harap? Siapa yang ingin menghabiskan air matanya untuk doakan orang selain dirinya dengan ikhlas dan tanpa paksaan? Takkan ada yang dapat menyangkal keluh seorang makhluk lembut namun berkekuatan baja, benar bukan?

Bagaimana harusku terobos hujan dengan gelak petir yang menggelegar, sedang inginku untuk mendekap pilu yang rebah dalam diri Mama yang jauh tak terlihat. Sedangkan Mama mampu untuk menerobos alam membelah langit dalam terik sinar yang menggetarkan. Mama selalu bersedia dalam bahtera besar dimanapun aku membutuhkannya. Aku hanya mampu menerjemah Budi yang bahkan tak pantas jika hanya dibayar oleh nyawa. Mama lukiskan malam dan siang untuk hariku. Anak mana yang bisa elakkan kantongan budi darinya?

Telah kurekam getar yang kadang merajam ulu hati selama 19 tahun ini. Aku tak dapat pungkir menemukan kekaguman yang hanya dalam milikmu selama ini. Mama, kamu seperti bulan yang mampu berikan cahaya ke penjuru alamku yang kelam karena cahayaku yang mungkin saja teramat kecil. Bisakah aku menyarung pada wujudmu, mama? Mungkin aku bisa melihat air matamu, yang selama ini rapi kamu simpan.

Mungkin aku tak bisa menjadi bulanmu, mama. Aku tak mampu. Ada saja kecacatan dalam nyalak cahayaku. Tiada indah dalam terang. Belum bisa menitip kagum meski hanya sesaat. Sekalipun demikian, Kamu turut mencintai kecacatan itu.

Kini 19 tahun sudah. Ada begitu banyak kealpaanku pada waktu, padamu Mama. Aku masih dalam rangka rapuh yang mudah goyang. Aku berharap bisa belajar dari sekujur kejadian. Pinjamkan tabahmu nanti, Mama, untukku. Agar aku bisa sampai pada batas yang kita impikan itu. Aku berserah pada sungai yang memuarainya.

Sekali lagi, Aku harus bersyukur pada Allah, yang tiupkan rohku pada rahimmu, Mama.


0 komentar:

Post a Comment