Hari ini aku menemukan angka satu
lainnya. Berarti, genap 19 sudah. Tapi, haruskah aku membilangnya?
Toh, hanya lilin yang bertambah, yang akan perlahan juga lelap dalam
gelap dan berlalu menjadi asap yang bergelayut di ruang udara.
Sejak keluar dari rahim wanita hebat
itu, tak ada satupun bagian yang tak patut kusyukuri. Aku selalu
merasakan kasih, bahkan dari setiap rembes hujan di hujung cerucuk
atap. Rinai hujan selalu berhasil meresonansi ingatan masa laluku.
Aku senang jika harus mengenang, kadang kita memang memerlukannya.
Meski air mata tak sadar jatuh basahi sudut mata yang sendu. Tenang.
Aku takkan menangasi kenangan buruk. Tapi kenangan indah yang aku
tahu dia tak kan dapat kembali.
Nanar mengenang jauh kebelakang, sempat
beberapa kali kulewati malam yang kelam. Bulan enggan tuk pinjamkan
terangnya temani sudut yang beku. Siapa yang tak suka cahayanya?
Meratappun jadi untuk bisa merengkuh hangat pijarannya. Dari situ
kudapat hangat mengalahkan gigil malam yang sering menyusup lewat
kusen jendela kamarku, meredam gemertak gigi yang senang bersahutan
dengan senandung serangga malam.
Namun, dari wanita hebat yang kusebut
Mama, sebenar benar Obat gigil yang teramat keramat. Yang muncul pada
setiap saat yang kelam. Yang meminjamkan fikiran, tenaga dan
airmatanya untukku, yang tak malu menerima. Siapa yang sudi berbagi
resah bersama namun tak dapat kembali harap? Siapa yang ingin
menghabiskan air matanya untuk doakan orang selain dirinya dengan
ikhlas dan tanpa paksaan? Takkan ada yang dapat menyangkal keluh
seorang makhluk lembut namun berkekuatan baja, benar bukan?
Bagaimana harusku terobos hujan dengan
gelak petir yang menggelegar, sedang inginku untuk mendekap pilu yang
rebah dalam diri Mama yang jauh tak terlihat. Sedangkan Mama mampu
untuk menerobos alam membelah langit dalam terik sinar yang
menggetarkan. Mama selalu bersedia dalam bahtera besar dimanapun aku
membutuhkannya. Aku hanya mampu menerjemah Budi yang bahkan tak
pantas jika hanya dibayar oleh nyawa. Mama lukiskan malam dan siang
untuk hariku. Anak mana yang bisa elakkan kantongan budi darinya?
Telah kurekam getar yang kadang merajam
ulu hati selama 19 tahun ini. Aku tak dapat pungkir menemukan
kekaguman yang hanya dalam milikmu selama ini. Mama, kamu seperti
bulan yang mampu berikan cahaya ke penjuru alamku yang kelam karena
cahayaku yang mungkin saja teramat kecil. Bisakah aku menyarung pada
wujudmu, mama? Mungkin aku bisa melihat air matamu, yang selama ini
rapi kamu simpan.
Mungkin aku tak bisa menjadi bulanmu,
mama. Aku tak mampu. Ada saja kecacatan dalam nyalak cahayaku. Tiada
indah dalam terang. Belum bisa menitip kagum meski hanya sesaat.
Sekalipun demikian, Kamu turut mencintai kecacatan itu.
Kini 19 tahun sudah. Ada begitu banyak
kealpaanku pada waktu, padamu Mama. Aku masih dalam rangka rapuh yang
mudah goyang. Aku berharap bisa belajar dari sekujur kejadian.
Pinjamkan tabahmu nanti, Mama, untukku. Agar aku bisa sampai pada
batas yang kita impikan itu. Aku berserah pada sungai yang
memuarainya.
Sekali lagi, Aku harus bersyukur pada
Allah, yang tiupkan rohku pada rahimmu, Mama.


0 komentar:
Post a Comment