Showing posts with label celoteh ringan. Show all posts
Showing posts with label celoteh ringan. Show all posts

Saturday, 24 August 2019

Rancu


Ada waktu yang tepat untuk menyelesaikan masa lalumu dan mempersiapkan masa depan. Dengan lugu kau bertanya, “kapan?”.

“sekarang!” jawabku teguh.

Mengapa kau sering sekali mempertanyakan sesuatu yang kau tahu? 
Membuat bingung dirimu dengan segala hal yang belum terjadi dan menghabiskan waktu merenungi yang berlalu. Dirimu seseorang yang tak bisa ditebak. 

kita sampai dibagian saling meragukan dan takut saling mengecewakan. 
Mari sama-sama kita selami, mungkin masalahmu yang sebenarnya bukan yang kau pertanyakan.  Mungkin adalah jawaban yang kau tahu dengan pasti, tapi kau berharap sesuatu yang lain bisa terjadi.

Wednesday, 2 January 2019

Lapang Dada


Tapal batas antara masa lalu dan masa depan hanya hari ini saja. Dan hari ini akan berganti kurang dari setengah jam lagi. Apa yang kita inginkan di masa depan dan kita berusaha lupakan di masa lalu hanya masalah perspektif . Memaksakan semua sesuai kehendak hanya membuat lelah.

Jika masa lalumu begitu berat, kamu hanya tak perlu menoleh kebelakang. Ketika kenangan itu kamu reka dan terciptalah luka. Saat itu kamu semakin tak bisa memaafkan dirimu lebih dari siapapun disekitarmu. Kamu hanya perlu menertawakan setiap kebodohanmu, biar sesekali kenangan beterbangan masuk ke matamu, dan tumpah dalam peluk, rebah dalam sujud.  Dengan begitu, harusnya bisa lebih mudah untukmu. Kamu hanya perlu menjadi arus yang bergerak, dan biarkan hati yang menuntun, ia tahu kemana harus berlabuh. Akan menjadi baik atau buruk, kita tak akan pernah tahu hingga semua telah berlalu, serahkan semua pada waktu. Tiba pada  titik tertentu, tak ada yang lebih baik dari hanya menerima.

Sudut Pandang

Menjadi tua tidak selalu memposisikan kita tahu segalanya. Tua, seharusnya menjadikan kita semakin sadar bahwa begitu banyak hal yang tak kita ketahui. Ada kapasitas yang terbatas untuk saling memahami dan itu manusiawi. Jadi, merasa diri paling mengerti adalah bentuk kekeliruan. Terutama jika itu perihal hati.

Banyak hal kadang tak sesuai harapan. Namun setelah waktu berlalu, bahkan sebentuk kegagalan pun menjadi sesuatu yang indah dengan jalan yang berbeda. Kita yang hanya perlu mengubah sudut pandang. Bukan kegagalan yang sebenarnya kita harus takutkan, tapi kemampuan untuk bertahan yang hilang. Tak ada perjalanan tanpa resiko. Bahkan jalur bebas hambatan memiliki angka kecelakaan yang cukup tinggi. Namun bukan berarti kita mengurung diri, kita hanya perlu berhati-hati. Jikapun terluka, sakitnya tak begitu dalam kita rasa. hingga kita akhirnya mengerti arti bangkit setelah jatuh berulang kali.









Sunday, 8 May 2016

Beranjak

Ketika waktu mulai beranjak dan kaki kian menapak, kita semakin mengerti bahwa hidup bukan hanya tentang hari ini, tapi mungkin akan jauh kedepan, selama nafas masih diberikan. Kita mulai membuat perencanaan yang lebih manusiawi. Tak lagi bermimpi memiliki pintu kemana saja. Tak berharap bisa mengambil bintang untuk menempelnya pada langit-langit kamar. Tak lagi bermimpi memiliki taman yang penuh ice cream, coklat dan mainan. Kita tak lagi meminta yang tak masuk akal. Yang diharapkan hanya semua bisa berjalan sewajarnya dan mampu mengatasi masalah dengan kelapangan hati dan ketenangan fikiran.

Tahun-tahun silam adalah saat dimana aku enggan beranjak dewasa. Saat dimana mimpi yang kubuat hanya sebatas hari ini. Dimana dunia dongeng begitu kuanggap nyata dalam duniaku. Hingga ketika aku sadar betapa kejamnya kehidupan nyata yang sedang menunggu. Pun begitu, aku berusaha untuk mencari tahu, berusaha menggapai, mendengar, dan menyentuh kehidupan yang terlihat kejam itu. aku ingin merasakan. Aku cukup kuat untuk menyeka air mata dan hanya menahannya untukku. Aku bukan lagi anak-anak yang tanpa beban, aku mengerti arti tanggung jawab dan segala kewajiban.


Dalam perjalanannya, aku sering melawan diriku sendiri yang menciptakan ragu. Aku menatap sisi lainku dalam cermin. Aku terlihat lugu mencari tahu. Di pundak, kupikul sederatan kisah masa lalu. Aku melihat ke-aku-anku dalam diriku, tertutup asa yang dihalangi pesimis. Selayaknya lapisan kaca yang rapuh. Bagaimana harusku menopang? ketika angin menyapa, aku mudah jatuh. Menjadilah kuat dan mendewasalah. Aku yakin aku mampu. Melebihi angin, kita bisa menghalau badai, jika perlu kita hilangkan segala ketidakmungkinan itu. Gagal hanya masalah waktu. Sedangkan waktu akan beranjak. Dan di waktu yang akan datang, sakit yang kita rasa hari ini hanyalah “masa lalu”.

Wednesday, 29 May 2013

Hidup dalam lintasan waktu

 
Aku berlari dalam lintasan waktu yang tak pernah henti. Sesekali aku berlari dalam barisan depan, namun tak jarang aku tertinggal sendiri. Ada semangat membara di masa muda yang membuatku terus berkeinginan berlari dalam lintasan itu, menjadi yang terdepan, menjadi yang terbaik di antara yang lainnya. Kuikat tali sepatuku dengan kencang. Telah kumulai untuk mengarungi lintasan itu…

Tanya Anak Negeri


 
Aku tak begitu paham dengan sistem politik di negaraku. Aku tak tahu makanan jenis apa ”reshuffle” yang sekarang marak dibicarakan oleh pejabat tinggi. Aku hanya seorang pelajar yang hanya tau bahwa negaraku Indonesia, simbolnya burung garuda, benderanya merah putih, dan didasari oleh pancasila. Aku mendapat pelajaran itu sejak aku duduk di sekolah dasar. Guru PPKN yang mengajarkan kepadaku. Beliau mengatakan,  ”Kita harus bela negara!”.

Sunday, 6 January 2013

Celotehan Mahasiswa Baru


Sudah terhitung lima bulan sejak aku membunyikan genderang perang menuju masa perkuliahan. Dunia baru yang sangat berat bagi ku, dan aku rasa juga bagi mahasiswa baru jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) lainnya di Universitas Syiah Kuala. Berat, sangat memberatkan. Beberapa tugas datang bertubi, kuis silih berganti,  tiba-tiba midtest dan sekarang final telah menanti.