Tuesday, 14 October 2014

Karena Hanya

Selalu ada saja alasan untuk menulis. Gambaran bahagia, setia, canda bahkan sesuatu yang menguras air mata semua hanya mengalir begitu saja jika aku tuangkan dalam sebuah tulisan. Begitu caraku menulis. Lalu aku akan merasa cukup tenang setelahnya. Walau beberapa tulisan akan segera aku hapus usai aku menemukan titiknya. Hanya karena alasan sederhana, tak semua yang kita pendam ternyata cukup baik diceritakan bahkan dari sebuah media tulisan sekalipun.

Monday, 6 October 2014

Indonesia Kita


Para jalang yang nyata adalah si tikus berdasi yang memilih naik dengan jabatan tinggi hanya untuk mengisi perutnya sendiri. Dia mungkin kurang disayang Tuhan, maka ia mencari kebahagian duniawi yang tak bisa membuatnya tentram. Ia mungkin tahu akan masuk neraka, maka ia mencari surganya dunia. Atau lebih parah lagi, jangan-jangan mereka telah memesan tiket khusus ke neraka.

Thursday, 2 October 2014

Berlalu


Di dunia ini, ada sesuatu yang jika kamu mengenangnya mungkin akan membuatmu merasakan sakit, tapi kamu akan terus mengingatnya, bahkan setengah memaksa untuk kembali mereka-reka.

Monday, 8 September 2014

Lalai yang Menyesal

Aku mencari celah diantara banyaknya asa, barangkali ada yang silap kuingat untukku usaha wujudkan dalam nyata. Namun aku merasa ini akan menjadi sampah percuma, karena aku terlalu lambat menyesalinya.

Ribuan hari terlewati sia-sia. Sedangkan aku disini masih sibuk membilang tentang cita-cita. Bagai masih menjadi boneka kecil ibu. Disaat tersadar kini aku terlanjur renta.

Saturday, 23 August 2014

Ketika Kugenggam 20 di Tangan

Manusia tak ayal melakukan perjalanan panjang hanya untuk mencari potensi apa yang sebenarnya terpendam dalam dirinya. Maka jelas, mengenal diri sendiri adalah perjuangan terberat. 

Monday, 2 June 2014

Kusebut Ini Sederhana

Bahkan kalimat memerlukan titik. Sedangkan sungai butuh muara.
Maka selaksa luka dan duka hanya butuh waktu untuk bisa dilupa. Dan selebihnya, kita hanya perlu berbahagia. Bahagia perlu dikejar meskipun hingga akhir nafas. Jadi hidup tidak akan menjadi sia-sia.

Sebagai makhluk Tuhan, kita hanya perlu melihat bagaimana Tuhan memberi kita waktu untuk bertahan. Karena kita tak bisa mengulang waktu, dan tak pula bisa menentukan dengan tepat masa depan, maka jalani saja. Jalani, hayati setiap perubahan. Setelah waktu berlalu, seharusnya kita mendapatkan lebih banyak dari yang terdahulu.

Monday, 5 May 2014

Yang Dewasa, Yang Bersyukur

Sekalipun kau kata Bintang itu indah, dia tetap harus menunggu malam untuk membuat dirinya berarti.
Seberapa penting pun matahari, dia butuh siang untuk bisa menyinari.
Seperti ombak yang butuh tepi, agar ia pecah beriak tak membadai lagi.
Seperti pohon-pohon yang butuh air untuk bisa hidup setiap hari.
Dan kamu, dapatkah kamu hidup tanpa ada Allah yang memberi nafas padamu tanpa jeda meskipun kamu mahir dalam segala hal dunia?

Wednesday, 26 March 2014

Palang Pintu Hati

Teman ku lebih senang menganalogikannya seperti ini “cukup dengan tidak berdiri di pintu masuk”.

Jika aku katakan, mungkin akan terdengar seperti “pemberi harapan palsu”.

Pada siang yang terik, seperti siang-siang kemarin yang kami lalui. Membincangkan ini-itu. Mengungkit-ungkit kisah masa lalu, menceritakan hal penting dan tak penting sekalipun. Bagi sekumpulan wanita, hal semacam ini menjadi wajar di saat mengisi waktu yang lengang. Hingga kami sampai pada topic yang berhubungan dengan harapan dan hati. Menyampaikan argumen yang sehubungan, dan saling membantah di beberapa bagian. Maka menurutku, mungkin seperti ini…

Friday, 14 March 2014

'Dia' Akan Datang

Bahwa kematian pasti akan menepati janji, datang kepada siapa saja tak kenal usia.
Sekalipun ia ditakuti atau sekalipun kamu menginginkannya, dia akan datang pada waktu yang telah pasti dan tak pula terlewati atau dikurangi.

Bahwa ia memisahkanmu dari yang terkasih hingga yang dibenci. Memisahkan jiwa dari raga yang pernah kamu sombongkan. Memisahkan dunia dari keadaan kepada ketiadaan.