Wednesday, 26 March 2014

Palang Pintu Hati

Teman ku lebih senang menganalogikannya seperti ini “cukup dengan tidak berdiri di pintu masuk”.

Jika aku katakan, mungkin akan terdengar seperti “pemberi harapan palsu”.

Pada siang yang terik, seperti siang-siang kemarin yang kami lalui. Membincangkan ini-itu. Mengungkit-ungkit kisah masa lalu, menceritakan hal penting dan tak penting sekalipun. Bagi sekumpulan wanita, hal semacam ini menjadi wajar di saat mengisi waktu yang lengang. Hingga kami sampai pada topic yang berhubungan dengan harapan dan hati. Menyampaikan argumen yang sehubungan, dan saling membantah di beberapa bagian. Maka menurutku, mungkin seperti ini…

Friday, 14 March 2014

'Dia' Akan Datang

Bahwa kematian pasti akan menepati janji, datang kepada siapa saja tak kenal usia.
Sekalipun ia ditakuti atau sekalipun kamu menginginkannya, dia akan datang pada waktu yang telah pasti dan tak pula terlewati atau dikurangi.

Bahwa ia memisahkanmu dari yang terkasih hingga yang dibenci. Memisahkan jiwa dari raga yang pernah kamu sombongkan. Memisahkan dunia dari keadaan kepada ketiadaan.

Sunday, 9 February 2014

Perkara rahasia


Bahwa gelap dan terang bisa datang bersama dan menciptakan bayangan disekitar kita. Menyembunyikan bayangan itu seperti menyembunyikan dirimu sendiri. Kita, dan rahasia yang kita pendam pada masing-masing hati, menginginkan tempat yang aman untuk disimpan bahkan dari bayangannya itu.

Sulit menyimpan sesuatu, bukan? Bahkan apa yang dirasakan hati ingin disembunyikan saja dari otak. Jika hati yang tahu, maka cukup hati. Jika otak yang kadang memikirkan sesuatu, tak bisakah jangan melibatkan hati? Karena apa yang kadang difikirkan bisa menyakiti hati.

Sunday, 19 January 2014

Senja Milik Hariku


Kau tahu mengapa kita tak bisa melangkahi senja?
Karena dia ada untuk malam.
Menjadikan langit biru ufuk barat sewarna saga, dia hantarkan malam untuk kita.

Saturday, 18 January 2014

Monologue



Adakah rindu?
Adakah cinta?
Aku tak menganggapnya realita.
Mungkin itu hanya serupa penyakit hati belaka.
mungkin aku perlu mengobatinya segera agar tak berubah menjadi akut sekejap mata.
Mungkin aku bermimpi di dalam pelayaran lelap, hingga indikasinya begitu nyata kurasa.
Ini hanya mimpi.
Aku hanya perlu dibangunkan, maka semua dapat berakhir segera.
Ini sungguh hanya halusinasi semata.
Sungguh.
Semua rasa itu tak ada.


Tuesday, 14 January 2014

Selayaknya Layang-layang

Kadang beberapa hal lebih baik pergi. Meski akan sulit melepasnya dari genggaman...

Kau tahu, Layangan perlu dilepas untuk membuktikan bahwa dia benar-benar indah.

Sunday, 15 December 2013

Dunia Semu Mu

Katanya ini bisu...
Bahkan ketika tawa tergelak lepas di telinganya.
Lantas bagaimana kau artikan ramai?

kau anggap dunia ini bukan bagian darimu.
Dan kamu tak pernah merasa menjadi bagian darinya...
Ada batas tak tampak, meski yang lain tak pernah merasakan batasannya.
Sedangkan kau terus membangun duniamu sendiri begitu nyata dalam benak.
Setiap hari kau merasa berbatas pada apa yang tak pernah dibatasi.

Friday, 23 August 2013

Satu untuk Sembilan Belas


Rujuk kasih di tahun ke-19 untuk Mama...

Hari ini aku menemukan angka satu lainnya. Berarti, genap 19 sudah. Tapi, haruskah aku membilangnya? Toh, hanya lilin yang bertambah, yang akan perlahan juga lelap dalam gelap dan berlalu menjadi asap yang bergelayut di ruang udara.

Friday, 7 June 2013

Aku Hanyalah Hamba


Ya Allah Ya Tuhan ku,  Engkau yang paling mengerti tentang rasa yang kadang tak sanggup lagi ditahan oleh hati dan fikiran ini.  Seberapa berat yang kujalani aku yakin sebagai bentuk kasih sayangMu untuk menguji ku menjadi umatmu yang lebih baik.