Friday, 1 January 2016

Menjadi yang Lain

Menjadi yang Lain
Sempat satu kali aku diajukan dengan satu pertanyaan yang sebenarnya sederhana,
“Jika ingin menjadi orang lain, andaikata kita bisa memilih untuk menjalani hidup seperti orang lain. Kamu mau menjadi siapa?”

Berulang kali aku memutar otak untuk menemukan jawabannya. Aku memang pernah beberapa kali terfikir untuk mencoba menjalani hidup seperti seseorang yang lain,  yang lebih keren misalnya, yang lebih cerdas, yang lebih kaya, yang lebih menarik,  yang kita lihat secara kasat mata bahwa hidup mereka mungkin bisa jauh lebih menyenangkan dari hidup kita. Mungkin kalian juga pernah memikirkan hal yang sama. Senang sekali membanding-bandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang-orang dan selalu berakhir dengan perasaan rendah diri karena merasa kurang disana dan disini.

Sejauh ini, yang aku dapat adalah tidak ada satupun kehidupan seseorang yang sempurna. Hidup siapa yang selalu bahagia? Bahkan artis terkenal sekaliber mancanegara mempunyai hidup penuh drama. Butuh usaha untuk setiap pencapaiannya. Butuh pengorbanan untuk setiap kebahagiaan. Bahkan kepuasaan butuh perencanaan yang sempurna yang hanya tercapai jika kita sudah bersusah payah meraihnya.

Pernah aku membayangkan mungkin aku terlahir menjadi si “A”. Lahir dari keluarga yang kaya raya, bertampang rupawan, tinggi semampai, ramah, dan mandiri pula. Tapi belakang aku tahu bahwa ia merasa kesepian karena hanya menjadi anak tunggal yang dibesarkan seorang ibu. Aku benci jika sepi.  Mungkin jika aku menjadi dia aku akan depresi, karena aku tak suka sendiri. Aku juga pernah terfikir bagaimana jika aku menjadi si “B”, salah satu public figure yang bisa dikenal banyak orang. Dia bisa membeli apapun dan kemanapun yang ia mau dengan penghasilannya. Tapi, aku lupa bagaimana pedihnya perjuangan si “B” untuk bisa mendapatkan apa yang ia genggam. Sedangkan aku berharap untuk bisa menjadi dirinya yang terkenal dan kaya raya, tapi mungkin aku tak sanggup untuk latihan ini dan itu bahkan dengan tidak tidur untuk tetap menjaga konsistensi, disamping aku harus tutup kuping dengan segala pembicaraan miring dari para pengiri dan tak tahu diri. Jika aku menjadi seperti dia…  Mungkin aku tak akan bisa bertahan lebih lama.

Setiap hidup manusia punya porsinya masing-masing. Aku dengan porsi hidupku, dan kamu dengan porsi hidupmu. Jangan mencari kesempurnaan, karena itu hanyalah kata pengganti “sesuatu yang tak akan pernah bisa kamu mewujudkannya”. Jangan hanya ingin mendapatkan enaknya saja, tanpa mau mengeluarkan jerih. Semuanya membutuhkan bayaran. Bahkan Allah memberikan oksigen dengan harapan kita tahu diri dan tak lupa untuk selalu mengingat-Nya, hanya kitalah yang kadang durhaka. Jika sudah begitu, jangan harapkan lagi bahagia dan ketenangan jiwa. Ingat, bahwa semua itu ada maknanya. Tidak ada yang sia-sia.


Jadi, setelah mempertimbangkan banyak hal. Sekalipun bisa untuk menjadi orang lain, seandainya pun kita bisa memilih terlahir sebagai siapa,  aku akan tetap memilih menjadi diri sendiri, yang sekarang aku jalani. Aku memang pernah jatuh dan meninggalkan bekas luka tak sembuh dari masa lalu, tapi orang mana yang selama 21 tahun hidupnya tak pernah melakukan kesalahan. Manusia lahir dengan kekurangan, kita bukan Malaikat yang tidak memiliki nafsu. Tapi setelah kesalahan dan kegagalan itulah, kita seharusnya belajar. Bukan malah menghidarinya dengan mengandai-andaikan sesuatu yang tak perlu. 

Sunday, 20 December 2015

Puzzle


Hidup itu layaknya serangkaian puzzle yang terserak disana-sini. Agar membentuk pola-pola terstruktur, kita perlu mengait-ngaitkan potongan puzzle. Mencoba mencocokkannya, lalu memastikan menemukan gambaran, yang sebaik-baiknya kita inginkan. 

Ada potongan puzzle kutemukan hari ini, beberapa tercecer saat aku dalam perjalanan pulang. Aku mengutipnya dan menyusun rapi dalam deretan kata yang tampak tak bermakna. Belum rampung, mungkin masih ada bagiannya yang hilang dan aku tak tahu kemana. Seseorang mungkin telah menyimpan bagiannya, atau mungkin memang ia masih bagian yang terbuang.

Seseorang mungkin akan datang lagi mengetuk pintu, tidak tahu masih orang yang sama atau yang lainnya. Mungkin mengantar potongan puzzle, membagi tahu bersama gambaran dari puzzle-puzzle itu. Toh, tak akan ada maknanya jika kita saling menyembunyikan. Mereka tak seharusnya menutup puzzle mereka dan mengaburkan cerita puzzleku. Kita tak akan pernah tahu mungkin betapa indahnya gambar itu.

Apakah kamu menyimpan rapi puzzle-puzzle itu? mungkin itu bagianku yang harus kamu bagikan. 
Bagaimana kalau kita mulai mencari tahu bersama saja? maksudku, aku dan kamu. Jika kita memang memiliki potongan puzzle dari cerita yang sama.

Beberapa puzzle tak cukup mampu membuat gambaran hidup yang aku harapkan. Bahkan satu bagian yang hilang dapat menimbulkan cerita yang berlainan. Sempat beberapa orang datang dan menunjukkan puzzle mereka, bagiannya tak padan, jadi hanya berlalu dan tinggalkan kenangan.

Meskipun berdiam, aku juga sedang mencari, potongan puzzle itu.
Cobalah sebentar saja periksa kantongmu, mungkin bagian puzzleku yang hilang terselip diantaranya.



   



Tuesday, 15 December 2015

Suara Malam

Suara Malam

Jangan biaskan pekat, aku cukup kelam dengan ingatan terdahulu yang menelusup seperti jelaga lampu minyak yang tergantung bergoyang di atap kayu yang rapuh.

Jangan bersembunyi dibalik bayang menjadi wayang diambang gamang yang senang memainkan peran.

Jangan terus menerus mendiamiku, itu membuatku gugup tak menentu.

Aku berusaha mengutip bintang, namun bersamaku mereka redup.

Bersamaku, didekatku. Semua terasa menusuk. Sekalipun aku tak pernah bermaksud.

Hingga akhirnya hanya pengap, asap bergumpal-gumpal buatku sesak, lagi.

Mengapa malam selalu membabi buta menusuk perihnya luka. 

Kenapa malam bertingkah seakan paling mengerti dari pada yang lainnya. Seolah memberikan cermin nyata, membuatku melihat segala cela.Buatku berada pada posisi paling sadar dan sepi, membuka segala sakit masalalu dan lelahnya usaha.

Malam, kali ini, marilah kita berjabat.
Aku  ingin berdamai denganmu, dengan gelap, dan dengan masa lalu.

Wednesday, 25 November 2015

Under Pressure


Tiap orang punya hal yang merasa membuat dirinya tertekan, apakah lingkungan atau malah orang-orang sekitar. Orang yang mendapat bully misalnya, harus lebih bersabar dan tetap berfikir sehat kapan harus melawan atau berdiam. Orang yang takut mengendarai motor, harus rela usaha lebih untuk kesana kemari. Orang yang tidak bisa beradaptasi, harus kuat lebih banyak lagi untuk menahan diri. Tapi, dalam setiap perjalanan hebat memang selalu ada tantangan berat. Dengan begitu kita akan merengkuh nikmat yang akan datang pada waktu yang tepat.

Thursday, 19 November 2015

Memulai untuk Mengakhiri

Jika Tugas Akhir selesai direvisi,
Jika sidang telah dilalui,
Jika ijazah telah dimiliki,
Dan jika gelar dibelakang nama ini sah dibubuhi,
Lantas, selanjutnya apa?

Ntahlah.  Jangan tanyakan itu pada mahasiswa tingkat akhir. Pertanyaan itu mungkin akan mengindikasikan tidurnya tak lelap dan degup jantungnya berdetak lebih cepat, karena itu terdengar seperti pukulan yang hebat. Jangan lakukan dosa besar ini, setidaknya saat proses revisi masih harus dijalani dan masih menunggu ekseskusi dari para penguji.

Wednesday, 30 September 2015

Lirih

-- CERPEN --



Sejak beberapa waktu yang lalu, hujan senang datang tiba-tiba. Tak ada angin ataupun mendung, bahkan saat matahari sedang terik sekalipun, kadang hujan turun uapkan hawa panas jalanan aspal penuh debu. Aku tak tahu sejak kapan, tapi cuaca sudah tak lagi menentu.

Thursday, 17 September 2015

Keep Calm and Stay Istiqamah

Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh hati yang sedang memendam cinta dalam diam, hati yang sedang berjuang untuk istiqamah dengan tidak menerima dan memberi cinta pada orang yang tak halal baginya, hati yang sedang dalam penantian panjang untuk menemukan sandaran dalam perjalanan menuju surga-Nya.

Kali ini kita akan berbagi pendapat tentang perkara yang takkan ada habis jika dibincangkan sepanjang masa. Perkara hati. Perkata cinta. Perkara memberi harap. Perkara mengharapkan. 

Sunday, 6 September 2015

Aku Kini 21

Aku sedang mengabdi dengan mengikuti KKN di gampong Teupin Batee, Blang Bintang, Aceh Besar, tepat disaat aku menginjak umurku yang ke-21.

Alhamdulillah, lagi dan lagi ya Allah. Aku bersyukur pada Mu.

Thursday, 14 May 2015

Absurd


Hujan turun deras sore ini, meninggalkan kabut dan memburamkan kaca jendela kamarku. Angin bertiup kencang, dari sudut kamar aku menikmatinya. Diluar, petir menyambar-nyambar begitu kentara terdengar di telingaku. Aku disini, sendiri. Hanya bersama suara nyaring percikan hujan. aku sering merindukannya pada kemarau panjang yang lalu. Ia meninggalkan kesan yang syahdu, dan bau tanah yang membuatku merasa jatuh cinta pada Tuhan, pada alam, lagi dan lagi. Cinta yang luar biasa dari alasan yang sederhana. Maka aku merasakan sensasi yang luar biasa.

Sunday, 15 March 2015

Hijrah

Kita bergelut dengan kehidupan, juga kematian, dan menimbang seakan keduanya merupakan hal yang bermusuhan, disaat kita sadar bahwa itu merupakan keniscayaan. Bahkan kehidupan adalah pendahulu kematian. Anggaplah hanya soal waktu untuk kita melewati hidup dan lalu mati, atau menunda mati dengan mencari persoalan hidup. Dan semua yang berawal akan berakhir. Walau bagaimanapun kita mengawalinya, tetap akan sulit menebak akan bagaimana akhirnya.