Pernah mendengar cinta yang sempurna? Takkan ada hal semisal itu jika yang kamu cinta sesama makhluk dunia, kecuali untuk Allah semata. Kamu hanya mendengarkan itu pada kisah ending sebuah dongeng. Dongeng takkan pernah nyata. Sedangkan kenyataan adalah sakit yang harus kamu terima.
Kita berjuang untuk hidup, atau hidup kita juangkan untuk segalanya. Keduanya terlihat seperti pernyataan ambigu. Karena hidup itu tak dapat didefinisikan, selain hanya bersifat abstrak dan tak dapat kita tebak. Dia berlalu, lewati waktu. Kadang momen tak direka oleh otak, sebagian lagi malah kita paksa untuk direka-reka. Semuanya terasa aneh.
Pada titik ini, Aku fikir, Hidup, cinta, sama membingungkannya.
Kita berusaha dewasa. Sok mengerti dengan segalanya. Namun pada kenyataannya, kita sungguh tak tahu apa-apa. Kita? Ya, kita! Homo sapiens terlalu ingin tahu banyak hal. Dan celakanya, ketika ia tahu sedikit hal tentang sedikit hal lainya, maka selebihnya ia besarkan, ia kurangkan, sesuai apa yang ia inginkan dalam fikirannya. Ia celaka. Ia menerka. Menebak. Mengubah kenyataan yang sedari dulu memang sudah salah jalannya. Manipulative!
Aku fikir, Kita palsu. Fikiran kita palsu. Hidup kita sandiwara. Cinta itu tak berarti apa-apa.
Seperti yang sudah kukatakan, cinta itu hanya sebatas perasaan. Tak semua nafsu cinta pantas untuk digapai . tak semua pribadi yang datang mampu menemani kita melewati hari-hari yang selalu penuh kejutan. Perlu seleksi ketat. Beberapa patut dipertahankan, selebihnya harus dihapus atau sekedar diabaikan. Namun sayangnya, menghapus rasa tak semudah menekan delete pada sebuah direktori dari layar elektronika. Pada kondisi nyata, kamu dipaksa melewati proses. Yap, dipaksa berproses!
Semisal proses alami, Jatuh, bangkit, jatuh lagi, lalu mengerti untuk bangkit lebih tinggi lagi. Atau… sedih, bahagia, masalah jatuhkan mentalmu, lalu selalu ada cara buatmu dapatkan bahagia meskipun dari cara-cara sederhana.
Ini tidak akan dimengerti bagi mereka yang terlalu terpaku pada hasil, padahal proses sebenarnya memberikan lebih daripada hasil yang kita harapkan.
Kini, aku fikir hidup adalah proses. Dan cinta adalah pilihan.
Kembali lagi aku tegaskan, sesungguhnya hidup dan cinta itu adalah sesuatu seperti apa yang kita definisikan dalam fikiran. Karena kata-kata tak begitu perlu, maka fikiran yang terbaik sungguh akan membawa kita pada hidup dan cinta yang terbaik.


0 komentar:
Post a Comment